Laman

Senin, 25 April 2011

Makalah Tamansiswa"KEMERDEKAAN"






TUGAS MATA KULIAH KETAMANSISWAAN
PANCADARMA
 ( KEMERDEKAAN )
PERJUANGAN DALAM RANGKA
MEMPERTAHANKAN KEMERDEKAAN INDONESIA
Di susun oleh


Satino                                    10 004 021

JURUSAN PENDIDIKAN MATEMATIKA
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS SARJANAWIYATA TAMANSISWA
YOGYAKARTA
2011



BAB I
A.Syair
Darah Juang
Cipt. John Tobing
Disini negri kami
Tempat padi terhampar
Samudranya kaya raya
Tanah kami subur tuhan
Di negeri permai ini
Berjuta rakyat bersimbah luka
Anak kurus tak sekolah
Pemuda desa tak kerja
Mereka di rampas haknya
Tergusur dan lapar
Bunda relakan darah juang kami
Tuk membebaskan rakyat
Mereka di rampass haknya
Tergusur dan lapar
Bunda relakan darah juang kami
Padamu kami berjanji
Mereka dirampas haknya
Tergusur dan lapar
Bunda relakan darah juang kami
Padamu kami berjanji (2x)

B. Konsep-konsep Dasar Kemerdekaan
1. Kemerdekaan mengandung arti bahwa sebagai karunia Tuhan Yang Maha Esa kepada manusia yang memberikan kepadanya hak untuk mengatur hidupnya sendiri ( zelfbeschikingsrecht ) dengan selalu mengingat syarat tertib damainya hidup bermasyarakat. Karena itu kemerdekaan diri harus di artikan sebagai swadisiplin atas dasar nilai hidup yang luur , baik hidup sebagai individu maupun sebagai anggota masyarakat. Kemerdekaan harus menjadi dasar untuk mengembangkan pribadi yang kuatdan sadar dalam suasana keseimbangan dan keselarasandengan kehidupan bermasyarakat.
2. Ki Hadjar Dewantara meletakan dasar kemerdekaan sebagai dasar pendidikan anak-anak kita , atas kesadaranya bahwa mengisi jiwa merdeka pada anak-anak jajahan , berarti mempersenjatai bangsa dengan senjatakeberanian berjuang , menanamkan rasa harga diri pada bangsa yang di jajah untuk mencapai kemerdekaanya
3. Asas kemerdekaan diri menurut paham tamansiswa ialah bahwa kebebasab dan kemerdekaan adalah hak tiap-tiap orang, untuk mencapai hidup salam dan bahagia. Ki.Hadjar mengatakan kemerdekaan seseorang di batasi oleh tertib dan damainya pergaulan hidup.
Adapun azaz tamansiswa
Ø  Setiap orang berhak mengatur dirinya sendiri dengan mengingat tertib persatuan dalam kehidupan umum.
Ø  Pendidikan yang diberikan hendaknya dapat menjadikan manusia yang merdeka.
Ø  Pendidikan hendaknya didasarkan atas keadaan dan budaya Indonesia.
Ø  Pendidikan diberika kepada seluruh rakyat Indonesia tanpa terkecuali.
Ø  Untuk mencapai azas kemerdekaan maka kita harus bekerja sesuai kemampuan diri sendiri.
Ø  Oleh karena itu kita harus bersandar pada kekuatan diri sendiri.
Ø  Pendidikan hendaklah mendidik anak dengan sepenuh hati, tulus , ikhlas dan tanpa mengharapkan imbalan.





BAB II
PEMBAHASAN
A.PERJUANGAN DALAM RANGKA MEMPERTAHANKAN KEMERDEKAAN INDONESIA
1.Latar Belakang Indonesia Belum dikatakan Merdeka
Benarkah Indonesia sudah merdeka meskipun para petinggi bangsa di masa lampau tersebut telah memproklamirkan kemerdekaan Indonesia? Pada kenyataannya, dapat kita lihat bahwa Indonesia tidak dapat dikatakan telah merdeka atau bebas dari penjajahan karena banyaknya masalah-masalah yang sudah berangsur begitu lama dan belum dapat dituntaskan juga oleh bangsa Indonesia.Berikut adalah hal-hal yang melatarbelakangi Indonesia belum dikatakan telah merdeka
Ø Tingginya tingkat kemiskinan yang membelenggu rakyat Indonesia
Indonesia masih terbelenggu oleh tingginya tingkat kemiskinan. Dari sekitar 200 juta jiwa di Indonesia, 17,75% nya adalah penduduk yang tergolong hidup dalam kemiskinan pada tahun 2005-2006*. Penduduk yang berada dalam kemiskinan tersebut tidak mampu memenuhi kebutuhan dasar mereka dan hal tersebut menyebabkan mereka terbatas pada memikirkan kepentingan diri mereka yaitu mampu bertahan hidup pada hari itu juga. Hal tersebut tidak mendorong mereka untuk berjuang mempertahankan kemerdekaan Indonesia karena mereka bahkan belum mampu mempertahankan hidup mereka sendiri. Apalagi bila ditambah dengan kenyataan bahwa negara ini belum mampu memberikan ‘hal’ apapun bagi mereka.
Ø Belum mandiri secara ekonomi beda ulat secara politik, berkepribadian budaya
Di masa sekarang, ketika Republik Indonesia seharusnya berbentuk Negara Kesatuan mayoritas dari kalangan masyarakat hanya mementingkan kepentingan golongan, sulit diajak berunding, dan terkesan tidak peduli dengan apa yang dilakukan oleh golongan lainnya sebatas mereka tidak menganggu mereka. Hal tersebut memperlihatkan bahwa bangsa Indonesia sudah ‘rapuh’ dan ‘terpecah-belah’ serta rasa nasionalisme yang makin memudar tergantikan oleh kepentingan golongan. Jadi, bukankah lebih baik merendahkan diri dengan menyerahkan kedaulatan ke bangsa lain yang mampu mengurus bangsa ini dengan baik, menerima hasil yang baik meskipun bangsa ini kembali menjadi bangsa terjajah, tapi pada akhirnya akan meraih sesuatu yang besar? Dijajah sekali lagi dan dibangun kemudian berkembang, merendahkan terlebih dahulu sebelum pada akhirnya berada di tempat yang lebih tinggi. Hal tersebut cocok dengan cara berpikir praktis dan realistis yang sesuai dengan cara berpikir masyarakat zaman sekarang.
Lagipula, apa bedanya dijajah dengan terlilit jumlah utang yang besar dengan dijajah dengan menyerahkan diri sendiri? Bukankah dengan menyerahkan diri sendiri lebih ‘terhormat’ daripada ‘sok’ berusaha mengatasi keadaan dan melilitkan diri dalam jumlah utang yang besar namun tidak mendapatkan hasil yang sesuai karena ‘dimakan’ oleh ‘penjajah dalam negeri sendiri’? Sesuai dengan teori yang mengatakan bahwa sesuatu yang bagus bila tidak memiliki manajemen yang bagus adalah percuma, maka mengapa tidak bangsa Indonesia serahkan saja ‘manajemen’ negara Indonesia ini kepada negara lain (atau bekerja sama dengan negara lain dalam hal tersebut) yang mampu menangani masalah ‘manajemen’ negara dengan lebih baik dan sudah berpengalaman lalu mendapatkan hasil yang baik serta pastilah tidak akan lebih buruk daripada keadaan yang ada saat ini?
Ø Rendahnya rasa nasionalisme rakyat Indonesia.
Rasa nasionalisme yang rendah dapat terlihat dalam diri pemuda-pemuda, pelajar-pelajar, penerus bangsa di masa depan. Ditunjukkan dengan sikap-sikap pemuda yang tidak benar-benar menyadari arti pendidikan itu sendiri padahal hal tersebut penting dan termasuk yang disebutkan dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945, serta minimnya pengetahuan mereka tentang bangsa Indonesia sendiri seperti mengenai lagu-lagu kebangsaan, nama-nama pahlawan, tempat-tempat bersejarah dan sejarah bangsa ini sendiri.
Ø Rendahnya tingkat pendidikan
Pendidikan, yang seharusnya menjadi awal perjuangan seorang penerus bangsa mempertahankan kemerdekaan Indonesia, menjadi sesuatu yang sekedar formalitas belaka untuk mencari pekerjaan yang belum tentu di dapat dan hal tersebut mendorong para pelajar untuk melanjutkan pendidikan dan menetap di luar negeri. Kebanggaan bersekolah di luar negeri diperoleh, tapi tidak diperoleh bila bersekolah di dalam negeri, dan hal tersebut tentu saja realistis dengan keadaan dalam negeri yang ‘berantakan’ saat ini. Selain itu “Pendidikan bermutu itu mahal’, kalimat inilah yang sering muncul untuk menjustifikasi biaya yang harus dikeluarkan masyarakat untuk mengenyam bangku pendidikan.

Ø Tingginya tingkat korupsi yang dilakukan oleh pejabat tinggi Negara
Setelah penjajahan Belanda telah berakhir selama bertahun-tahun, ternyata budaya yang ada pada masa penjajahan Belanda masih belum juga lepas dari tubuh bangsa Indonesia. Kebudayaan untuk melakukan korupsi tumbuh dan berkembang dalam masyarakat, mulai dari tingkat sekolah yang seharusya menjadi pondasi kedua setelah keluarga dalam mendidik penerus bangsa hingga ke tingkat pemerintahan  yang pejabat-pejabat tinggi di dalamnya seharusnya menjadi teladan bagi anak-anak bangsa serta masyarakat luas di negeri yang dipimpinnya. Mayoritas diantara mereka melakukan praktek korupsi, lebih mementingkan uang daripada kewajibannya dalam membangun Indonesia menjadi negara yang lebih baik lalu mampu mempertahankan kemerdekaan Indonesia yang seakan ‘menjauh’. Tak heran kalau mereka tidak dipercaya karena rasa nasionalisme mereka yang rendah namun terus menerus berada di jajaran petinggi negara.
Bagaimana perjuangan untuk mempertahankan kemerdekaan mampu terlaksana dengan baik bila kaum terpelajar dan seharusnya dihormati bersikap ‘rendah’ seperti itu karena lebih mementingkan kekayaan masing-masing daripada kesejahteraan rakyatnya yang merupakan salah satu bentuk mempertahankan kemerdekaan? Sayangnya, hal tersebut sudah merasuk, mendarah daging, dan mengakar di dalam bangsa Indonesia serta menjadi suatu budaya yang ‘harus’ dilakukan.
2. Perjuangan Rakyat Indonesia Masa Lampau
Pada masa lampau tersebut, bangsa Indonesia berupaya sebisa mungkin agar lepas dari tangan penjajah. Seperti di Bandung (Peristiwa Bandung Lautan Api), rakyat rela membakar harta bendanya serta kotanya agar Belanda tidak bisa menguasai apa yang seharusnya milik mereka; dan Surabaya (Insiden Bendera), rakyat merobek bagian biru dari bendera Belanda yang dinaikkan oleh orang Belanda dan menaikkannya kembali sebagai bendera Merah Putih. Dalam kedua peristiwa tersebut, dapat terlihat bahwa rasa nasionalisme mereka sangatlah tinggi dan tidak rela bila direndahkan oleh bangsa penjajah. Mereka tidak hanya tunduk begitu saja namun melawan sekuat mereka hingga pada akhirnya Indonesia mampu untuk memerdekakan diri, bahkan hingga masa setelah itu ketika ada bangsa yang berusaha menguasai Indonesia lagi. Indonesia yang pada masa lampau masih menggunakan alat-alat sederhana atau bersifat fisik seperti bambu runcing memiliki suatu visi yang jelas atau konkret sehingga seluruh bangsa Indonesia terarah untuk melawan penjajah dan memerdekakan diri
3. Perjuangan Rakyat Indonesia  Masa Sekarang
Perjuangan masyarakat saat ini adalah untuk mempertahankan sebuah kemerdekaan yang sudah diraih oleh bangsa ini di masa lampau. Ketika hanya dilakukan perlawanan secara fisik yang menumpahkan begitu banyak darah dianggap kurang bermanfaat, pemimpin-pemimpin bangsa melakukan cara yang lain, yaitu dengan cara diplomasi. Sama halnya dengan saat tersebut, saat ini, bangsa Indonesia tidak perlu menumpahkan banyak darah karena di era kini, cara berpikir manusia lebih maju. Namun, masih terlihat bahwa cara diplomasi untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia di dalam negeri sulit untuk dilakukan. Apakah masalah internal tersebut memang tidak dapat dirundingkan lagi atau salah satu/kedua pihak memang tidak memiliki keinginan berunding untuk menyelesaikannya secara damai, padahal mereka seharusnya adalah suatu kesatuan?. Sayangnya, di masa yang perkembangan teknologinya sangat pesat ini, bangsa Indonesia tidak lagi memiliki visi yang jelas.
4.Upaya yang Dilakukan Pemerintah dalam Mempertahankan Kemerdekaan Indonesia.
       Pemimpin bangsa berusaha mempertahankan kemerdekaan Indonesia melalui pendidikan yaitu wajib belajar 9 tahun, karena mayoritas masyarakat Indonesia tidak berpendidikan.
Di masa sekarang, terlihat bahwa teknologi sudah berkembang dengan sangat baik dan dampaknya terhadap masyarakat (dampak sosiologis) terhadap hal tersebut yaitu batas negara yang dulu dianggap sangat membebani seakan tidak ada lagi (mis. teknologi komunikasi yang memungkinkan manusia di bagian bumi lain berhubungan dengan manusia di bagian lainnya secara cepat dan terasa seperti tidak ada yang membatasi). Dampak tersebut menyebabkan masyarakat terpelajar berpikir tidak ada gunanya lagi berjuang mempertahankan kemerdekaan karena di masa modern ini, masyarakat tidak lagi berpikir mengenai negara mana seseorang berasal namun kualitas apa yang dimilikinya.
5. Upaya yang Di lakukan Oleh Masyarakat
Masyarakat tersebut sudah melakukan perjuangan dalam rangka mempertahankan kemerdekaan Indonesia yang berupa protes atau kritik terhadap kinerja pemerintah yang sering kali tidak sesuai dengan harapan masyarakat. Namun, perjuangan tersebut mengarah ke sisi negatif karena mereka melakukannya tanpa memikirkan kendala-kendala dalam pemerintahan dan hanya menuntut apa yang sesungguhnya mereka inginkan serta sering kali menuntut tanpa menawarkan solusi yang masuk akal, terlebih lagi perjuangan mereka tersebut sering dilakukan secara anarkis (hingga kaum terpelajar terlihat ‘rendah’ dan layaknya tidak berpendidikan)., perjuangan rakyat dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia, baik kaum miskin maupun terpelajar, sudah memudar. Rakyat tidak mampu lagi mengambil resiko yang besar seperti yang dilakukan masyarakat masa lampau demi negaranya sendiri, yang terasa wajar bila memikirkan bahwa negaranya juga tidak mampu memberikan ‘sesuatu’ untuk mereka; hal tersebut adalah siklus mematikan bila menunggu sesuatu untuk memberi terlebih dahulu baru kemudian bersedi memberi.




.


BAB III
KESIMPULAN
Siapakah yang mampu mengubah keadaan rakyat Indonesia?
Yaitu pemuda-pemuda yang memiliki mental terpelajar yang mampu berfikir secara kritis, mampu melakukan perubahan sehingga perjuangan dalam rangka mempertahankan kemerdekaan Indonesia dapat terealisasikan dengan baik, dan dapat berjalan sesuai UUD 1945 dan PANCASILA.Dan agar perjuangan dalam rangka mempertahankan kemerdekaan Indonesia dapat dilakukan dengan maksimal yaitu bagi para pelajar yang merupakan penerus-penerus bangsa, harus memiliki sikap layaknya seorang terpelajar (mental terpelajar) dan oleh lingkungan sekitar keluarga, sekolah, masyarakat ditanamkan rasa nasionalisme sehingga ketika sudah saatnya nanti, bila diperlukan sebagai penerus bangsa, dapat diandalkan dan tidak tergerus oleh arus yang tidak benar; bagi para pemimpin bangsa, berani menyadari bahwa bangsa ini butuh seseorang yang lebih baik daripada sekedar koruptor dan sesegera mungkin ‘menyingkir’, berani melawan cara yang tidak seharusnya dalam mempertahankan kemerdekaan meskipun ditentang banyak orang.Harapan di masa mendatang yaitu pada pemilihan umum nanti atau suatu saat nanti, akan muncul seorang pemimpin bangsa yang berani melawan segala ‘ketidakbenaran’ dalam tubuh bangsa Indonesia ini, terutama dalam tubuh pemerintahan.






DAFTAR PUSTAKA
  Ki Sutikno.2004.Bahan kuliah Tamansiswa.majelis luhur Persatuan  Tamansiswa;Yogyakarta
  Dewantara,ki.hadjar.2004.Bagian  Pertama Pendidikan. Majelis  Luhurpersatuan Tamansiswa;Yogyakarta
  http://google.com/ perjuangan rakyat dalam mempertahankan kemerdekaan  indonesia.
  http://google.com/pengertian kemerdekaan.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar